Monday, 12 March 2012

Sejarah Preman di Jakarta

Beberapa bulan terakhir ini kita sering mendengar, melihat dari media massa maupun elektronik mengenai kekerasan/kekacauan di Ibu kota Jakarta yang melibatkan beberapa kelompok preman yang mengandalkan nyali untuk mengais rezeki. Ulah preman ini tentunya sangat meresahkan masyarakat, ada juga isu yang berhembus bahwa kelompok preman di jakarta ini sengaja "diperlihara" oleh aparat keamanan.





Berikut ini daftar kelompok "preman" di Jakarta yang berpengaruh : 


1. Prems (Preman Sadar)
Kelompok preman pertama yang ada di Jakarta adalah Prems (Preman Sadar) bentukan Edo Mempor pada 1982. Kelompok ini bermarkas di lantai 2 Pasar Senen. Kelompok Prems kemudian bubar saat digelar Operasi Celurit atau yang dikenal Petrus (penembakan misterius) pada 1983-1985. Saat itu mayoritas anggota Prems tewas dibunuh.“Yang tersisa hanya tinggal beberapa orang,” ujar Fence yang sempat lolos dari operasi Petrus. Kata Fence, peta dunia jagoan di Jakarta era 1980-an berbeda dengan sekarang. Dahulu, meski banyak tokoh preman, sangat jarang terjadi bentrokan. Bila ada sengketa antarkelompok biasanya diselesaikan dengan duel antarpemimpin geng. Tak heran kalau para tokoh preman era 1980-an rata-rata punya ilmu beladiri. Bukan sekadar mengandalkan nyali.Fence kemudian menyebut beberapa nama pre-man seangkatannya, seperti Hermai Kei Priok, Jhoni Raja Tega, Patrick Siliwangi, Jonni Sembiring, Chris Berland, Ongky Pieter, Matt Sanger, Udin Balok, Idris Beruang. Mereka, ujar Fence, rata-rata bertubuh atletis dan jago berantem. Memasuki tahun 1990-an, ba-nyak terjadi perubahan dalam dunia preman. Jika dahulu para preman punya penghasilan dari memalak para pedagang dan toko, serta merampok. Setelah era Pe-trus, para preman mengandalkan pencaharian dari jasa penagihan dan menunggui lahan sengketa. Duel antarjagoan kini tidak ada lagi, yang ada saat ini adalah tawuran antarkelompok preman jika terjadi silang sengketa. 

2. Hercules
Hercules Rosario Marshal pernah menjadi preman paling ditakuti di zamannya. Ada banyak cerita soal sepak terjang preman bertubuh kecil ini dan kelompoknya. Kita tentu masih ingat dengan penyerbuan harian Indopos gara-gara Hercules merasa dirugikan dengan pemberitaan koran itu. Juga tentang pendudukan tanah di beberapa kawasan Jakarta yang menyebabkan terjadi bentrokan antarpreman. Belum dihitung sejumlah tawuran antargeng yang merenggut korban jiwa dan luka-luka.


Hercules dikenal ‘gagah berani’. Dalam berbagai tawuran yang melibatkan kelompoknya, pria kelahiran Timor Timur itu sering memimpin langsung. Dia seperti tak takut mati atau terluka. Bahkan Hercules selamat saat mendapat 16 bacokan. Salah satu matanya juga pernah tertembus peluru hingga bagian kepala belakang. Namun lagi-lagi, dia selamat. Konon, dia punya ilmu kebal. Pria tiga anak itu mulai malang melintang di dunia perpremanan Ibukota sejak tahun 80-an. Daerah kekuasaan Hercules adalah Tanah Abang, kawasan yang disebutnya sebagai ‘Lembah Hitam’.Sebelumnya, pria berambut keriting ini dulunya merupakan pejuang pro NKRI dalam kasus Timor Timor. Bahkan, Kopassus memercayai dia sebagai pemegang logistik dalam operasi di Timor Timur. Hercules mendapat musibah di Timor Timur dan dirawat intensif di RSPAD Jakarta. Sejak peristiwa itu, Hercules menjalani hidupnya di ‘jalanan’. 

3. John Kei
Nama aslinya John Refra. Kei adalah panggilan khas untuk para perantauan yang datang dari Kepulauan Kei, pulau kecil di Kabupaten Tual, Provinsi Maluku. John Kei menginjakkan kaki di Jakarta pada 1986, setelah lebih dulu sempat berlabuh di Surabaya.

Di Ibu Kota, pria berumur 42 tahun ini mendirikan perkumpulan bernama Anak Muda Kei (Amkei) dengan klaim ribuan pengikut. Ia juga mengelola bisnis keamanan dan jasa penagih utang (debt collector). Persaingan di dunia bisnis itu tak jarang membawa kelompok John Kei ke dalam kasus-kasus kekerasan.

  
Maret 2004, anak buah John Kei terlibat bentrok dengan massa Basri Sangaji, bos preman yang amat disegani saat itu. Nama John Kei kembali dikait-kaitkan dengan kasus kematian Basri Sangaji pada Oktober tahun itu juga. Basri tewas dengan dua luka tembakan di dadanya.

Pada April 2010, anak buah John Kei kembali ben-trok di kelab malam Blowfish dengan massa Thalib Makarim dari Ende, Flores. Bentrokan itu berlanjut ketika sidang kasus Blowfish digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tiga orang tewas dalam insiden itu. Adik Kei, Tito Kei menderita luka tembak. ohn Kei sekali dipenjara atas kasus penganiyaan semasa hidup di Surabaya. Akan tetapi, kini kasus- kasusnya di Jakarta akan kembali diusut menyusul tertangkapnya John Kei. John Kei ditangkap di Hotel C’One, Pulomas, Jakarta Timur pada 17 Februari. Ia diduga mendalangi aksi pembunuhan bos PT Sanex Steel Indonesia (SSI), Tan Harry Tanoto. 

4. Daud-Kei
Daud Kei merupakan sempalan dari kelompok John Kei. Daud yang punya nama asli Ladau Tetla Geni itu mulai terjun di dunia preman sejak 1993, ketika ditugasi membebaskan lahan di Bukit Sentul, Bogor. Saat itu ia berada di bawah komando Yorrys Raweyai. yang kini menjadi politisi Partai Golkar. Namun Yorrys yang kini jadi anggota Komisi I DPR enggan di mintai tanggapan soal Daud ataupun premanisme. “Saya nggak komentar soal itu, yang lain saja ya,” kata Yorrys. Setelah itu, Daud keluar dari kelompok Yorrys dan menikah. Karena tuntutan ekonomi, Daud kemudian memilih terjun lagi ke dunia preman pada 1995. Kali ini ia bergabung dengan John Kei. 

    
“Saya masuk kelompok John karena kami sama-sama berasal dari Pulau Kei. Saya kenal John di Jakarta,” ujar Daud saat ditemui majalah detik di rumahnya. Setelah gabung di kelompok John Kei, Daud sering ditugasi mengurus penagihan dan pengamanan di lokasi rawan bentrok dengan kelompok preman lain. Pilihan John kepada Daud bukan tanpa alasan. Selain memegang Dan VI di organisasi beladiri Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki), pria kelahiran 1970 ini juga dianggap pandai berdiplomasi. Apalagi kini Daud bertitel sarjana hukum dari Universitas Jayabaya. Daud kemudian jadi tangan kanan John. Daud pun diberi kelonggaran untuk membentuk kelompok Angkatan Muda Kei, pada 2000. Meski begitu kelompok bentukan Daud ini masih tetap berada di bawah komando John.

Namun setahun belakangan John dan Daud pecah kongsi. Pemicunya, Daud menganggap cara John dalam menjalankan bisnis tagihan dan jaga lahan sudah kelewatan. John sangat kasar dan sering bikin perkara dengan kelompok preman lain di Jakarta dan sekitarnya. Dalam dunia para ’jagoan’, perpecahan di dalam salah satu kelompok sudah merupakan hal yang lazim. Pecahan kelompok preman ini kemudian membuat kelompok baru.
 

2 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...