Showing posts with label tragedi bintaro. Show all posts
Showing posts with label tragedi bintaro. Show all posts
Wednesday, 12 March 2014
Empat Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia
Dibawah
kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den
Beele, sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai dengan pencangkulan pertama
pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen Semarang, Jumat tanggal 17 Juni
1864. Pembangunan transportasi kereta api diprakarsai oleh “Naamlooze
Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM) yang
dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes.
Bentang
waktu yang lama tentunya banyak sekali pembangunan stasiun-stasiun yang menjadi
jalur perlintasan kereta pada masa tersebut. Sampai sekarang, ada beberapa yang
masih beroperasi sebagai jalur transportasi publik, angkutan barang, hanya
sebagai kereta wisata, atau bahkan dijadikan sebagai museum kereta api. Yang
menyedihkan, malah ada beberapa yang sudah tidak terawat, tidak dilestarikan
dan punah. Berikut daftar Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia:
1.
Stasiun Semarang Gudang / Tambaksari (1864)
Stasiun ini dibangun pada tanggal 16 Juni 1864 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele. Untuk pengoperasian rute ini, pemerintah Belanda menunjuk Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), salah satu markas NIS yang sekarang dikenal sebagai Gedung Lawang Sewu. Dan tepatnya pada 10 Agustus 1867 sebuah kereta meluncur untuk pertama kalinya di stasiun ini. Pembangunan stasiun ini merupakan cikal bakal perkebangan perkeretaapian di Indonesia hingga sekarang ini. Dampak dari pembangunan stasiun ini menjadikan Pulau Jawa menjadi ladang investor Belanda pada masa tersebut.
Stasiun ini dibangun pada tanggal 16 Juni 1864 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele. Untuk pengoperasian rute ini, pemerintah Belanda menunjuk Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), salah satu markas NIS yang sekarang dikenal sebagai Gedung Lawang Sewu. Dan tepatnya pada 10 Agustus 1867 sebuah kereta meluncur untuk pertama kalinya di stasiun ini. Pembangunan stasiun ini merupakan cikal bakal perkebangan perkeretaapian di Indonesia hingga sekarang ini. Dampak dari pembangunan stasiun ini menjadikan Pulau Jawa menjadi ladang investor Belanda pada masa tersebut.
2. Stasiun
Semarang Tawang (1868)
Pembangunan stasiun ini berselang empat tahun setelah selesainya pembangunan Stasiun Semarang Gudang / Tambaksari. Stasiun dengan kode SMT merupakan stasiun induk di wilayah Tanjung Mas, Semarang Utara, Kotamadya Semarang yang melayani kereta api eksekutif dan bisnis.
Pembangunan stasiun ini berselang empat tahun setelah selesainya pembangunan Stasiun Semarang Gudang / Tambaksari. Stasiun dengan kode SMT merupakan stasiun induk di wilayah Tanjung Mas, Semarang Utara, Kotamadya Semarang yang melayani kereta api eksekutif dan bisnis.
Stasiun ini
merupakan stasiun tertua kedua setelah Stasiun Semarang Gudang / Tambaksari
yang diresmikan tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke Tanggung.
Jalur ini menggunakan lebar 1435 mm. Pada tahun 1873 jalur ini diperpanjang
hingga Stasiun Solo Balapan dan melanjut hingga Stasiun Lempuyangan di
Yogyakarta.
3. Stasiun
Lempuyangan Yogyakarta (1872)
Stasiun dengan kode LPN, +144 m, adalah stasiun tertua di Kota Gudeg melayani pemberhentian semua KA ekonomi yang melintasi Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan beserta dengan rel yang membujur dari barat ke timur merupakan perbatasan antara Kecamatan Gondokusuman di utara dan Danurejan di selatan.
Stasiun dengan kode LPN, +144 m, adalah stasiun tertua di Kota Gudeg melayani pemberhentian semua KA ekonomi yang melintasi Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan beserta dengan rel yang membujur dari barat ke timur merupakan perbatasan antara Kecamatan Gondokusuman di utara dan Danurejan di selatan.
Diresmikan
tanggal 2 Maret 1872 oleh Pemerintah Hindia Belanda, keberadaan Stasiun Lempuyangan pada saat itu memiliki arti penting bagi pertumbuhan dan
perkembangan perkeretaapian di Pulau Jawa. Pada saat itu stasiun ini melayani
rute Jogja – Semarang.
4.
Stasiun Buitenzorg /Bogor (1872)
Dibangun oleh BUMN perkeretaapian milik Pemerintah Belanda 1872 sebagai stasiun persinggahan terakhir jalur Batavia – Buitenzorg (Bogor-Jakarta) dan mulai beroperasional satu tahun setelah pembangunan stasiun ini. Dibangunnya Stasiun Bogor ini bertujuan untuk mempersingkat waktu perjalanan Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor) karena pada saat itu masih menggunakan kereta kuda sebagai transportasi utama melayani penumpang.
Dibangun oleh BUMN perkeretaapian milik Pemerintah Belanda 1872 sebagai stasiun persinggahan terakhir jalur Batavia – Buitenzorg (Bogor-Jakarta) dan mulai beroperasional satu tahun setelah pembangunan stasiun ini. Dibangunnya Stasiun Bogor ini bertujuan untuk mempersingkat waktu perjalanan Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor) karena pada saat itu masih menggunakan kereta kuda sebagai transportasi utama melayani penumpang.
Perkembangan
pesat pengguna kereta api jalur Batavia – Buitenzorg pada akhirnya di tahun
1881 dibangun stasiun baru dengan desain arsitektunya bergaya Eropa dan berlantai
dua dengan hiasan berbagai motif. Seperti geometrik awan, kaki-kaki singa dan
relung-relung bagian lantai. Sampai saat ini, Kusen pintu masuk dan jendelanya
masih dalam kondisi utuh dengan gaya khas. Lapangan yang ada didepannya yang
konon bernama Wilhemina Park.
Bangunan itu sendiri luasnya kurang lebih 5.955
m2 yang dibangun di areal lahan seluas 43.267 m2 lokasi tepatnya di Jalan Nyi
Raja Permas Kelurahan Cibogor Kecamatan Bogor Tengah. Salah satu ruangan di
stasiun ini terdapat prasasti yang didirikan pada 1881. Prasasti itu terbuat
dari marmer sebagai persembahan karyawan sebagai ucapan selamat pagi terhadap D
Marschalk yang memasuki masa pensiun atas jasanya mengembangkan perkeretaapian
di Pulau Jawa.
5. Stasiun
Ambarawa (1873)
Stasiun ini sekarang berfungsi sebagai Museum Kereta Api Ambarawa yang banyak dikunjungi wisatawan pada akhir minggu dan musim liburan. Museum ini memiliki koleksi lengkap mengenai kelengkapan kereta api yang berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.
Stasiun ini sekarang berfungsi sebagai Museum Kereta Api Ambarawa yang banyak dikunjungi wisatawan pada akhir minggu dan musim liburan. Museum ini memiliki koleksi lengkap mengenai kelengkapan kereta api yang berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.
Kereta Api
dengan teknologi uap ini memilikii gerigi yang sangat unik, berfungsi untuk
memudahkan di jalan yang menanjak selain itu lokomotif ini merupakan salah satu
dari tiga yang masih tersisa di dunia (dua diantaranya ada di Swiss dan India).
Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis
lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029,
Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.
Wednesday, 11 December 2013
Tragedi Bintaro II (2013), Kisah Heroik Sofyan Hadi (21 Th) Teknisi KRL
Surya Putra, sepupu almarhum Sofyan, menceritakan perbincangan keluarga dengan manajemen PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) yang datang melayat ke rumah duka. Staf KCJ mengatakan, Sofyan adalah pahlawan. Dia memilih menunaikan tugasnya ketimbang menyelamatkan diri sendiri.
Sofyan berada di kabin masinis bersama masinis Darman Prasetyo dan asisten masinis Agus Suroto ketika kereta rel listrik Serpong-Tanah Abang melaju Senin siang itu, 9 Desember 2013. Mendekati perlintasan kereta di kawasan Bintaro, terlihat bahaya menghadang. Truk tangki Pertamina ada di tengah lintasan rel.
Masinis pun meminta Sofyan menyuruh para penumpang di gerbong paling depan mundur ke belakang karena kereta akan menabrak truk tangki itu. Dalam hitungan detik waktu yang tersisa, Sofyan keluar dari kabin masinis dan memerintahkan penumpang mundur sambil berpegangan pada tiang atau kursi penumpang.
Saat itu penumpang sulit bergerak karena gerbong khusus wanita yang berada di bagian paling depan rangkaian amat penuh dan mereka saling berdesakan. Sofyan terus memerintahkan mereka untuk mundur.
Soryan kemudian melihat ada anak kecil di gerbong depan. Dia langsung membawa anak itu bergeser ke gerbong belakang. Sofyan sempat mundur sampai gerbong ketiga demi menyelamatkan anak yang tak dikenalnya itu.
Saat itu, bisa saja Sofyan diam di gerbong itu. Toh dia tahu tabrakan tak bakal terhindarkan. “Tapi dia tidak mau meninggalkan masinis dan asisten masinis yang ada di ruang kemudi. Dia lari lagi balik ke depan, ke kabin masinis. Padahal kalau dia mau, dia bisa loncat cari selamat waktu berada di gerbong tiga. Tapi sepertinya dia tidak mau meninggalkan tanggung jawabnya,” kata Surya.
Ketika Sofyan sudah kembali ke kabin masinis, tabrakan dahsyat pun terjadi. Api berkobar melalap kabin masinis dan gerbong pertama kereta. Sofyan dan kedua rekannya tewas seketika. Jasad mereka ditemukan bertumpukan di kabin masinis.
Kesaksian penumpang
Julie Retna, salah satu penumpang selamat yang berada di gerbong khusus wanita paling depan, membenarkan ucapan Jonan. Menurut perempuan 54 tahun itu, ada kru kereta yang keluar dari kabin kemudi untuk memberi tahu penumpang bahwa kereta akan tabrakan.
Julie yang berada dekat dengan kabin masinis lantas mengintip ke pintu kabin yang terbuka. Matanya langsung melihat pemandangan mengerikan di depannya, tabrakan akan terjadi dalam hitungan detik. Hingga kini, Julie yang masih dirawat di rumah sakit masih syok.
Keluarga ikhlas
Keluarga ikhlas melepas kepergian Sofyan. Mereka bersyukur atas banyaknya perhatian yang diberikan pada Sofyan. Sejak kecelakaan terjadi hingga proses pemakaman, banyak orang yang membantu.
“Seluruh pihak, mulai dari PT KAI tempat Sofyan bekerja sampai asuransi, semua datang. Dirut KAI bahkan datang langsung. Mereka tak lepas tanggung jawab,” ujar Supriatna, paman Sofyan, di rumah duka di kawasan Bekasi Timur.
“Keluarga sudah ikhlas atas kematian ini. Rezeki dan maut itu kuasa Allah. Kalau tidak ikhlas, berarti kami tidak percaya Tuhan,” kata dia.
Sebagai bentuk penghargaan tinggi KAI atas dedikasi Sofyan, keluarga Sofyan yang ingin bekerja di KAI bisa langsung masuk tanpa tes. “Sofyan bisa saja memilih tidak kembali ke kabin masinis setelah memperingatkan penumpang. Tapi ia justru balik lagi membantu rekan-rekannya. Saya sendiri belum tentu sanggup dalam kondisi seperti itu harus menentukan pilihan akan bagaimana,” ujar Direktur Utama KAI, Ignasis Jonan.
sumber : vivanews
Slamet Suradio, Saksi Hidup tragedi Bintaro 1 (1987)
Slamet Suradio bukan saja merupakan salah satu saksi hidup tragedi bintaro I, akan tetatpi dia juga merupakan masinis salah satu kereta yang mengalami tabarakan dalam tragedi bintaro I.
Tragedi Bintaro I adalah peristiwa tabrakan hebat dua buah kereta api di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada tanggal 19 Oktober 1987 yang merupakan kecelakaan terburuk dalam sejarah perkeretaapian diIndonesia. Peristiwa ini juga menyita perhatian publik dunia.
Sebuah kereta api yang berangkat dari Rangkasbitung, bertabrakan dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu musibah paling buruk dalam sejarah transportasi diIndonesia.
19 Oktober 1987, KA 225 (Rangkasbitung-Jakarta Kota) yang dimasinisi Slamet Suradio bertabrakan secara frontal dengan KA 220 (Tanah Abang-Merak) di kawasan Bintaro, Tangerang.
Akibatnya, 156 orang tewas mengenaskan dan sekitar 300 korban lain mengalami luka-luka.
Penyelidikan setelah kejadian menunjukkan adanya kelalaian petugas Stasiun Sudimara yang memberikan Sinyal aman bagi kereta api dari arah Rangkasbitung, padahal tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran. Hal ini dilakukan karena penuhnya jalur di stasiun Sudimara.
Slamet lalu ditetapkan sebagai salah seorang tersangka dalam insiden tersebut. Dia akhirnya divonis lima tahun penjara. Dia dianggap bersalah. Selain Slamet menjalani hukuman di balik terali besi, karir sebagai masinis langsung mandek. Dia diberhentikan dari pekerjaan itu. Setelah menuntaskan hukuman, dia memilih pulang ke kampung halaman di Purworejo.
Slamet kini tinggal di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan Kidul, RT 02/RW 02 Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo. Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan dengan berjualan rokok eceran di rumah itu.
"Hingga kini saya masih sering trauma dan miris jika mendengar kabar kecelakaan kereta api. Sebagai mantan masinis, saya bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh seorang masinis yang mendapatkan musibah hebat seperti itu," kenang dia.
Kronologi Tabrakan Kereta (Tragedi Bintaro I)
Lelaki lanjut usia itu masih mampu mengingat dengan jelas detail tragedi Bintaro yang melibatkan dirinya. Slamet mengisahkan, tragedi Bintaro terjadi Senin Pon, 19 Oktober 1987, pukul 07.30. Saat kejadian, Slamet berada di lokomotif KRD 225.
Kecelakaan terjadi di antara Stasiun Pondokranji dan Pemakaman Tanah Kusir, Sebelah Utara SMUN 86 Bintaro. Di dekat tikungan melengkung Tol Bintaro, tepatnya di lengkungan S, berjarak kurang lebih 200 m setelah palang pintu Pondok Betung dan ± 8 km sebelum Stasiun Sudimara.
Peristiwa bermula atas kesalahan kepala stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 ke Stasiun Sudimara, tanpa mengecek kepenuhan jalur KA di Stasiun Sudimara. Sehingga, ketika KRD no.KA 225, jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota, tiba di Stasiun Sudimara pada pukul 6:45 WIB, stasiun Sudimara yang punya 3 jalur saat itu penuh dengan KA.
Selang 5 menit kemudian, Djamhari, petugas PPKA Stasiun Sudimara menerima telepon dari Umrihadi, Petugas PPKA stasiun Kebayoran Lama yang mengabarkan KA no.220 jurusan Tanahabang-Merak sudah berangkat menuju Sudimara. Kemudian Djamhari mengejar KA 225 dengan berlari sambil mengibarkan bendera merah.
Tak ayal kecepatan KA di atas 50 km/jam tidak mampu dikejar Djamhari. Dua kereta api yang sama-sama sarat penumpang, Senin pagi itu bertabrakan di lokasi ± Km 18.75. Kedua kereta hancur, terguling dan ringsek. Kedua lokomotif dengan seri BB 30316 dan BB 30616 rusak berat. Jumlah korban jiwa ± 156 orang, dan ratusan penumpang lainnya luka-luka.
Bencana di Atas Ka 225 dari Rangkasbitung bertabrakan dengan KA 220 dari Jakarta di Pondok Betung, Jak-Sel. Lebih dari 100 korban meninggal. Kedua gerbong terdepan meluncur menelan kedua lokomotif yang berciuman.
TIBA-tiba Wartini berteriak, “Kereta… kereta….” Semua pembeli lontong di warung wanita bertubuh gemuk itu menoleh ke belakang, ke arah rel 30-an meter di depan. Dua kereta api masing-masing sarat penumpang melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Dan, “glegarrr,” tanah di sekitar warung pun bergetar. Wartini menjerit, “Astagfirullah …,” lalu ia jatuh pingsan. Orang-orang pun berdatangan, terkesima, kaget, tak percaya, ngeri.
Di Desa Pondok Betung, 4 km dari stasiun Kebayoran Lama, kawasan pinggir barat Jakarta Selatan, musibah itu terjadi. Pagi, pukul 07.05, 19 Oktober, Senin pekan ini. Seketika daerah itu menjadi ramai. Ramai oleh mereka yang dengan sukarela mencari alat apa saja untuk menolong korban bencana kereta api terbesar sepanjang sejarah perkeretaapian di Indonesia. Dan pemandangan di sekitar titik tubrukan sungguh mirip mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan.
Di titik itulah KA 225 dari Rangkasbitung, Jawa Barat, dengan sekitar 700 penumpang adu kepala dengan kereta api KA 220 yang membawa 500-an penumpang yang datang dari stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jumlah penumpang itu diperoleh dari sumber PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api). Artinya, belum terhitung penumpang gelap yang biasa berjejal, menempel di pinggiran lokomotif atau bertengger di atap gerbong-gerbong bercat hijau itu.
Sampai Senin tengah hari sudah lebih dari 100 korban yang meninggal dunia, 300-an orang luka berat dan ringan. Jumlah ini pasti bertambah, karena di dalam gerbong yang ringsek masih 20-an korban meninggal tapi belum bisa dikeluarkan.
Tertindih besi-besi yang tak keruan lagi malang-melintangnya, seorang ayah dan anak laki-lakinya berumur 10-an tahun tampak masih bernapas. “Saya belum akan pulang sampai dua orang itu jelas nasibnya,” kata Kapolda Poedy Syamsudin, yang langsung berada di tempat musibah.
Tujuh rumah sakit terdekat — RS Fatmawati, RS Setia Mitra, RS TNI-AL Mintoharjo, RS Pertamina, RS Pondok Indah, RS Jakarta, dan RS Cipto Mangunkusumo — menjadi tempat penampungan. Hari itu juga Presiden Soeharto mengunjungi para korban di RS Cipto Mangunkusumo.
Darah berceceran, di beberapa tempat menggenang. Potongan tubuh manusia berserakan. Di sebuah gerbong ditemukan potongan kaki dan tangan berselemak darah, entah tubuhnya berada di mana. Bau amis menyengat hidung. Raungan, jeritan, dan tangis korban yang masih dikaruniai hidup mengiris hati.
Di sebuah atap gerbong, seorang lelaki setengah baya terjepit dan putus asa. “Pooo…tong saja kaki saya,” pintanya dengan sengsara kepada sejumlah petugas yang mencoba menolongnya. Tak berapa lama si malang mengembuskan napas terakhirnya.
Tiga anak berumur sekitar lima tahun diketahui bernama Juned, Aswadi, dan Makmur, yang juga terjepit tak menjerit. “Minta air, Om,” kata salah seorang di antaranya kepada seorang polisi. Ketiganya baru bisa dikeluarkan pukul 20.00, lebih dari 12 jam kemudian.
Ketika matahari mulai menyengat, korban yang masih hidup, tubuh-tubuh yang menyembul di antara gerbong, dipayungi dengan kertas koran.
Siang itu sebuah lokomotif didatangkan untuk menyeret gerbong yang saling menjepit. Tapi rencana dibatalkan karena khawatir puluhan korban yang tergencet di dalam akan tambah remuk. “Selama masih ada yang hidup, gerbong itu tidak boleh digerakkan sampai kapan pun,” kata Menteri Perhubungan Rusmin Nurjadin di lokasi kecelakaan, Senin sore.
Begitu dahsyatnya tabrakan itu hingga dua gerbong terdepan dari KA 225 meluncur menelan kedua lokomotif yang berciuman, seakan ular menelan tikus. Di kedua gerbong inilah banyak korban tergencet, bak daging tercincang. Normalnya, kedua gerbong berkapasitas 166 penumpang. Kenyataannya, tentulah lebih dari itu. Gergaji besi mesin dan mesin pengelas didatangkan guna membongkar gerbong.
Sementara itu, bangku-bangku kereta yang berserakan dijadikan tandu untuk mengangkuti korban ke balai desa 200-an meter dari tempat itu. Mayat-mayat dijejerkan menunggu puluhan ambulans yang sibuk. Sejumlah mobil pribadi ikut membantu.
Helikopter polisi meraung-raung mengawasi keadaan dan siap mengangkut korban yang kritis. Beberapa sekolah SMP dan SMA di dekat tempat kejadian diliburkan, siswanya dikerahkan membantu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bertahun, mungkin berpuluh tahun, jalur kereta api di situ aman. Wartini, penjual lontong, saksi mata itu, pun heran, “Biasanya kereta api dari Rangkasbitung menunggu dulu di Sudimara. Saya heran kali ini kok dia jalan terus,” kata pemilik rumah di tepi rel itu.
Penumpang kereta dari Rangkasbitung yang berangkat pukul 05.00 subuh paling banyak pedagang kecil dan anak-anak sekolah. Biasanya kereta ini berhenti di stasiun Sudimara pada pukul 06.40, menunggu kereta dari Tanah Abang, yang biasanya melintas sembilan menit kemudian.
Menurut catatan yang diperoleh TEMPO, di hari maut itu KA 225 seperti biasa menunggu di Sudimara. Tapi KA 220 yang ditunggu tak juga datang. Mestinya — kalau semua berjalan sesuai dengan jadwal — pada pukul 06.50, KA 225 sudah meninggalkan Sudimara menuju Tanah Abang. Setelah menunggu sampai 06.55 dan kereta dari Tanah Abang tak juga nongol, maka bergeraklah kereta dari Rangkasbitung itu.
Memang, KA 220 terlambat 11 menit dengan sebab yang belum jelas. Stasiun Kebayoran Baru dilewatinya seperti biasanya. Seandainya rel kereta di 4 km kemudian tak menikung, bisa jadi tubrukan tak sedahsyat yang terjadi. Tapi siapa menduga pagi itu maut telah menunggu? Tiba-tiba saja, begitu kereta menikung, di depan sudah terlihat KA 225 meluncur, dan….
Pengusutan, seperti dikatakan Menteri Rusmin Nurjadin, difokuskan pada “Entah mengapa KA 225 meneruskan perjalanannya dari Sudimara”. Hal itu disebut Menteri sebagai suatu “kelainan” dan sedang diusut oleh Gappka (Gabungan Penyelidikan Peristiwa Kecelakaan Kereta Api). Hari itu juga Menteri Rusmin memerintahkan agar seluruh jadwal perjalanan kereta api di Indonesia dicek, tanpa kecuali.
Menurut sumber TEMPO, petugas di Sudimara tak pernah memberikan aba-aba berangkat pada KA 225. Padahal, tanpa aba-aba dari pimpinan perjalanan kereta api berupa tiupan peluit dan lambaian sinyal kayu bundar berwarna hijau — kereta api dilarang berangkat.
Adalah Ir. Endang Sukaesih, 27 tahun penduduk perumahan Pondok Pucung, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang, agaknya bisa sedikit menjelaskan. Pagi itu, pegawai Badan Pemeriksa Keuangan yang biasanya naik KA 225 itu terlambat. Dia mencoba mengejar kereta yang mulai berjalan.
Seorang petugas stasiun berteriak, “Tak usah buru-buru, kereta cuma langsir.” Endang berhenti mengejar. Tapi kereta ternyata terus melaju meninggalkan stasiun. Semula Endang ingin marah, merasa ditipu. Urung, karena melihat petugas stasiun sendiri kalang-kabut. Ada yang berkata “Wah, ini bisa tabrakan.” Endang melihat seorang petugas mengejar kereta itu dengan sepeda motor. Tak berhasil. Siangnya, Endang mendengar musibah kereta api itu. Dia kontan pingsan.
Tak jelas, setelah gagal mengejar kereta, adakah Sudimara menghubungi stasiun pertama yang akan dilewati KA 225 itu. Harap dicatat stasiun kereta api itu masih berada di wilayah Jakarta, tapi masih memakai telegram sebagai alat komunikasi antarstasiun. Tak ada hubungan telepon. “Faktor itu kemungkinan menghambat komunikasi,” kata Haji Burhanuddin Wahab, Humas Departemen Perhubungan.
Mudah-mudahan, semua itu tak akan sulit diungkapkan. Masinis Amung Sunarya dan pembantunya Mujiono dari KA 225, juga masinis KA 220, Selamet dan pembantunya Saleh, selamat dari musibah. Diduga mereka meloncat dari lokomotif sebelum tabrakan terjadi. Mereka sekarang dimintai keterangan oleh Gappka.
Tinggal pertanyaan yang susah dijawab. Mengapa dalam tiga hari terjadi musibah dengan korban cukup besar: kebakaran dan tubrukan kereta.
sumber : http://charleskkb.blogspot.com; http://indocropcircles.wordpress.com; http://wikewidiawati.wordpress.com; http://www.jpnn.com
Tragedi Bintaro I adalah peristiwa tabrakan hebat dua buah kereta api di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada tanggal 19 Oktober 1987 yang merupakan kecelakaan terburuk dalam sejarah perkeretaapian diIndonesia. Peristiwa ini juga menyita perhatian publik dunia.
Sebuah kereta api yang berangkat dari Rangkasbitung, bertabrakan dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu musibah paling buruk dalam sejarah transportasi diIndonesia.
19 Oktober 1987, KA 225 (Rangkasbitung-Jakarta Kota) yang dimasinisi Slamet Suradio bertabrakan secara frontal dengan KA 220 (Tanah Abang-Merak) di kawasan Bintaro, Tangerang.
Akibatnya, 156 orang tewas mengenaskan dan sekitar 300 korban lain mengalami luka-luka.
![]() |
| BB 30609 (kiri) bersama BB 30316 (kanan) yang terlibat tabrakan |
Penyelidikan setelah kejadian menunjukkan adanya kelalaian petugas Stasiun Sudimara yang memberikan Sinyal aman bagi kereta api dari arah Rangkasbitung, padahal tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran. Hal ini dilakukan karena penuhnya jalur di stasiun Sudimara.
Slamet lalu ditetapkan sebagai salah seorang tersangka dalam insiden tersebut. Dia akhirnya divonis lima tahun penjara. Dia dianggap bersalah. Selain Slamet menjalani hukuman di balik terali besi, karir sebagai masinis langsung mandek. Dia diberhentikan dari pekerjaan itu. Setelah menuntaskan hukuman, dia memilih pulang ke kampung halaman di Purworejo.
Slamet kini tinggal di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan Kidul, RT 02/RW 02 Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo. Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan dengan berjualan rokok eceran di rumah itu.
"Hingga kini saya masih sering trauma dan miris jika mendengar kabar kecelakaan kereta api. Sebagai mantan masinis, saya bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh seorang masinis yang mendapatkan musibah hebat seperti itu," kenang dia.
Kronologi Tabrakan Kereta (Tragedi Bintaro I)
Lelaki lanjut usia itu masih mampu mengingat dengan jelas detail tragedi Bintaro yang melibatkan dirinya. Slamet mengisahkan, tragedi Bintaro terjadi Senin Pon, 19 Oktober 1987, pukul 07.30. Saat kejadian, Slamet berada di lokomotif KRD 225.
Kecelakaan terjadi di antara Stasiun Pondokranji dan Pemakaman Tanah Kusir, Sebelah Utara SMUN 86 Bintaro. Di dekat tikungan melengkung Tol Bintaro, tepatnya di lengkungan S, berjarak kurang lebih 200 m setelah palang pintu Pondok Betung dan ± 8 km sebelum Stasiun Sudimara.
Peristiwa bermula atas kesalahan kepala stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 ke Stasiun Sudimara, tanpa mengecek kepenuhan jalur KA di Stasiun Sudimara. Sehingga, ketika KRD no.KA 225, jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota, tiba di Stasiun Sudimara pada pukul 6:45 WIB, stasiun Sudimara yang punya 3 jalur saat itu penuh dengan KA.
- KA 225 di jalur 1.
- KA Indocement hendak ke arah Jakarta juga, di jalur 2.
- Di jalur 3 ada KA barang tanpa lokomotif.
Selang 5 menit kemudian, Djamhari, petugas PPKA Stasiun Sudimara menerima telepon dari Umrihadi, Petugas PPKA stasiun Kebayoran Lama yang mengabarkan KA no.220 jurusan Tanahabang-Merak sudah berangkat menuju Sudimara. Kemudian Djamhari mengejar KA 225 dengan berlari sambil mengibarkan bendera merah.
Tak ayal kecepatan KA di atas 50 km/jam tidak mampu dikejar Djamhari. Dua kereta api yang sama-sama sarat penumpang, Senin pagi itu bertabrakan di lokasi ± Km 18.75. Kedua kereta hancur, terguling dan ringsek. Kedua lokomotif dengan seri BB 30316 dan BB 30616 rusak berat. Jumlah korban jiwa ± 156 orang, dan ratusan penumpang lainnya luka-luka.
Bencana di Atas Ka 225 dari Rangkasbitung bertabrakan dengan KA 220 dari Jakarta di Pondok Betung, Jak-Sel. Lebih dari 100 korban meninggal. Kedua gerbong terdepan meluncur menelan kedua lokomotif yang berciuman.
TIBA-tiba Wartini berteriak, “Kereta… kereta….” Semua pembeli lontong di warung wanita bertubuh gemuk itu menoleh ke belakang, ke arah rel 30-an meter di depan. Dua kereta api masing-masing sarat penumpang melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Dan, “glegarrr,” tanah di sekitar warung pun bergetar. Wartini menjerit, “Astagfirullah …,” lalu ia jatuh pingsan. Orang-orang pun berdatangan, terkesima, kaget, tak percaya, ngeri.
Di Desa Pondok Betung, 4 km dari stasiun Kebayoran Lama, kawasan pinggir barat Jakarta Selatan, musibah itu terjadi. Pagi, pukul 07.05, 19 Oktober, Senin pekan ini. Seketika daerah itu menjadi ramai. Ramai oleh mereka yang dengan sukarela mencari alat apa saja untuk menolong korban bencana kereta api terbesar sepanjang sejarah perkeretaapian di Indonesia. Dan pemandangan di sekitar titik tubrukan sungguh mirip mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan.
Di titik itulah KA 225 dari Rangkasbitung, Jawa Barat, dengan sekitar 700 penumpang adu kepala dengan kereta api KA 220 yang membawa 500-an penumpang yang datang dari stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jumlah penumpang itu diperoleh dari sumber PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api). Artinya, belum terhitung penumpang gelap yang biasa berjejal, menempel di pinggiran lokomotif atau bertengger di atap gerbong-gerbong bercat hijau itu.
Sampai Senin tengah hari sudah lebih dari 100 korban yang meninggal dunia, 300-an orang luka berat dan ringan. Jumlah ini pasti bertambah, karena di dalam gerbong yang ringsek masih 20-an korban meninggal tapi belum bisa dikeluarkan.
Tertindih besi-besi yang tak keruan lagi malang-melintangnya, seorang ayah dan anak laki-lakinya berumur 10-an tahun tampak masih bernapas. “Saya belum akan pulang sampai dua orang itu jelas nasibnya,” kata Kapolda Poedy Syamsudin, yang langsung berada di tempat musibah.
Tujuh rumah sakit terdekat — RS Fatmawati, RS Setia Mitra, RS TNI-AL Mintoharjo, RS Pertamina, RS Pondok Indah, RS Jakarta, dan RS Cipto Mangunkusumo — menjadi tempat penampungan. Hari itu juga Presiden Soeharto mengunjungi para korban di RS Cipto Mangunkusumo.
Darah berceceran, di beberapa tempat menggenang. Potongan tubuh manusia berserakan. Di sebuah gerbong ditemukan potongan kaki dan tangan berselemak darah, entah tubuhnya berada di mana. Bau amis menyengat hidung. Raungan, jeritan, dan tangis korban yang masih dikaruniai hidup mengiris hati.
Di sebuah atap gerbong, seorang lelaki setengah baya terjepit dan putus asa. “Pooo…tong saja kaki saya,” pintanya dengan sengsara kepada sejumlah petugas yang mencoba menolongnya. Tak berapa lama si malang mengembuskan napas terakhirnya.
Tiga anak berumur sekitar lima tahun diketahui bernama Juned, Aswadi, dan Makmur, yang juga terjepit tak menjerit. “Minta air, Om,” kata salah seorang di antaranya kepada seorang polisi. Ketiganya baru bisa dikeluarkan pukul 20.00, lebih dari 12 jam kemudian.
Ketika matahari mulai menyengat, korban yang masih hidup, tubuh-tubuh yang menyembul di antara gerbong, dipayungi dengan kertas koran.
Siang itu sebuah lokomotif didatangkan untuk menyeret gerbong yang saling menjepit. Tapi rencana dibatalkan karena khawatir puluhan korban yang tergencet di dalam akan tambah remuk. “Selama masih ada yang hidup, gerbong itu tidak boleh digerakkan sampai kapan pun,” kata Menteri Perhubungan Rusmin Nurjadin di lokasi kecelakaan, Senin sore.
Begitu dahsyatnya tabrakan itu hingga dua gerbong terdepan dari KA 225 meluncur menelan kedua lokomotif yang berciuman, seakan ular menelan tikus. Di kedua gerbong inilah banyak korban tergencet, bak daging tercincang. Normalnya, kedua gerbong berkapasitas 166 penumpang. Kenyataannya, tentulah lebih dari itu. Gergaji besi mesin dan mesin pengelas didatangkan guna membongkar gerbong.
Sementara itu, bangku-bangku kereta yang berserakan dijadikan tandu untuk mengangkuti korban ke balai desa 200-an meter dari tempat itu. Mayat-mayat dijejerkan menunggu puluhan ambulans yang sibuk. Sejumlah mobil pribadi ikut membantu.
Helikopter polisi meraung-raung mengawasi keadaan dan siap mengangkut korban yang kritis. Beberapa sekolah SMP dan SMA di dekat tempat kejadian diliburkan, siswanya dikerahkan membantu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bertahun, mungkin berpuluh tahun, jalur kereta api di situ aman. Wartini, penjual lontong, saksi mata itu, pun heran, “Biasanya kereta api dari Rangkasbitung menunggu dulu di Sudimara. Saya heran kali ini kok dia jalan terus,” kata pemilik rumah di tepi rel itu.
Penumpang kereta dari Rangkasbitung yang berangkat pukul 05.00 subuh paling banyak pedagang kecil dan anak-anak sekolah. Biasanya kereta ini berhenti di stasiun Sudimara pada pukul 06.40, menunggu kereta dari Tanah Abang, yang biasanya melintas sembilan menit kemudian.
Menurut catatan yang diperoleh TEMPO, di hari maut itu KA 225 seperti biasa menunggu di Sudimara. Tapi KA 220 yang ditunggu tak juga datang. Mestinya — kalau semua berjalan sesuai dengan jadwal — pada pukul 06.50, KA 225 sudah meninggalkan Sudimara menuju Tanah Abang. Setelah menunggu sampai 06.55 dan kereta dari Tanah Abang tak juga nongol, maka bergeraklah kereta dari Rangkasbitung itu.
Memang, KA 220 terlambat 11 menit dengan sebab yang belum jelas. Stasiun Kebayoran Baru dilewatinya seperti biasanya. Seandainya rel kereta di 4 km kemudian tak menikung, bisa jadi tubrukan tak sedahsyat yang terjadi. Tapi siapa menduga pagi itu maut telah menunggu? Tiba-tiba saja, begitu kereta menikung, di depan sudah terlihat KA 225 meluncur, dan….
Pengusutan, seperti dikatakan Menteri Rusmin Nurjadin, difokuskan pada “Entah mengapa KA 225 meneruskan perjalanannya dari Sudimara”. Hal itu disebut Menteri sebagai suatu “kelainan” dan sedang diusut oleh Gappka (Gabungan Penyelidikan Peristiwa Kecelakaan Kereta Api). Hari itu juga Menteri Rusmin memerintahkan agar seluruh jadwal perjalanan kereta api di Indonesia dicek, tanpa kecuali.
Menurut sumber TEMPO, petugas di Sudimara tak pernah memberikan aba-aba berangkat pada KA 225. Padahal, tanpa aba-aba dari pimpinan perjalanan kereta api berupa tiupan peluit dan lambaian sinyal kayu bundar berwarna hijau — kereta api dilarang berangkat.
Adalah Ir. Endang Sukaesih, 27 tahun penduduk perumahan Pondok Pucung, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang, agaknya bisa sedikit menjelaskan. Pagi itu, pegawai Badan Pemeriksa Keuangan yang biasanya naik KA 225 itu terlambat. Dia mencoba mengejar kereta yang mulai berjalan.
Seorang petugas stasiun berteriak, “Tak usah buru-buru, kereta cuma langsir.” Endang berhenti mengejar. Tapi kereta ternyata terus melaju meninggalkan stasiun. Semula Endang ingin marah, merasa ditipu. Urung, karena melihat petugas stasiun sendiri kalang-kabut. Ada yang berkata “Wah, ini bisa tabrakan.” Endang melihat seorang petugas mengejar kereta itu dengan sepeda motor. Tak berhasil. Siangnya, Endang mendengar musibah kereta api itu. Dia kontan pingsan.
Tak jelas, setelah gagal mengejar kereta, adakah Sudimara menghubungi stasiun pertama yang akan dilewati KA 225 itu. Harap dicatat stasiun kereta api itu masih berada di wilayah Jakarta, tapi masih memakai telegram sebagai alat komunikasi antarstasiun. Tak ada hubungan telepon. “Faktor itu kemungkinan menghambat komunikasi,” kata Haji Burhanuddin Wahab, Humas Departemen Perhubungan.
Mudah-mudahan, semua itu tak akan sulit diungkapkan. Masinis Amung Sunarya dan pembantunya Mujiono dari KA 225, juga masinis KA 220, Selamet dan pembantunya Saleh, selamat dari musibah. Diduga mereka meloncat dari lokomotif sebelum tabrakan terjadi. Mereka sekarang dimintai keterangan oleh Gappka.
Tinggal pertanyaan yang susah dijawab. Mengapa dalam tiga hari terjadi musibah dengan korban cukup besar: kebakaran dan tubrukan kereta.
sumber : http://charleskkb.blogspot.com; http://indocropcircles.wordpress.com; http://wikewidiawati.wordpress.com; http://www.jpnn.com
Subscribe to:
Posts (Atom)




