Showing posts with label berita. Show all posts
Showing posts with label berita. Show all posts
Thursday, 11 February 2016
Baby Syndrome dan Akibatnya
Centers of Disease Control and Prevention dalam situsnya www.cdc.gov mendefinisikan Baby Shaken Syndrome sebagai bentuk trauma keras pada kepala (abusive head trauma) dan bentuk luka traumatik otak yang diakibatkan perbuatan orang lain secara sengaja (inflicted traumatic brain injury). SBS bisa terjadi secara alami karena pergerakan bayi. Namun seringnya
diakibatkan oleh tindakan orang dewasa yang mengguncang bayi secara
keras dengan tangan maupun kaki. Aktivitas mengguncang bayi masuk dalam
ketegori kekerasan pada anak.
David Perlstein, MD, MBA, FAAP dalam www.medicinenet.com memaparkan beberapa akibat yang ditimbulkan oleh SBS:
1. Pendarahan pada otak
2. Kerusakan retina
3. Kerusakan syaraf (yang umumnya bersifat permanen)
4. Kebutaan
5. Cidera pada leher dan tulang belakang.
Akibat paling fatal dari SBS adalah kematian, umumnya di alami bayi dengan usia 3-8 bulan. Di Indonesia, data gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh SBS belumlah ada, nampaknya belum ada yang mencoba melakukan survei. Sebagai perbandingan, Shaken Baby Syndrome menjadi penyumbang 10%-12% kematian bayi di Amerika.
Kebiasaan Orang Tua yang Berpotensi Menyebabkan SBS
Di Indonesia khususnya, ada banyak kebiasaan orang tua yang berpotensi memberikan guncangan pada bayi dan bisa menjadi penyebab SBS. Silakan ditambahkan jika Anda menemukan yang lain.
1. Menaruh bayi di ayunan
Membuat ayunan bayi menjadi tradisi yang diwariskan turun terumurun di Indonesia. Pertanyaan sederhana, apa kebiasaan ibu atau pengasuh saat mendapati bayinya menangis di ayunan?
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa saat bayi menangis di ayunan, orang tua atau pengasuh justru mengayun lebih keras.
2. Mengguncang saat menggendong
Aksi mengguncang bayi dalam gendongan biasa dilakukan ibu. Ada beragam alasan seperti membuat bayi tertawa atau menghentingan tangisan. Beberapa pengasuh bayi juga terbiasa melakukannya.
Jika menggunakan jasa pengasuh, penting kiranya memberi pengertian pada mereka mengenai bahaya mengayun bayi baik dalam ayunan maupun gendongan.
3. Mengguncang bayi dengan tangan atau kaki
Tangisan bayi seringkali membuat banyak orang tua marah dan frustasi. Saat stress orang cenderung bertindak anarkis. Contoh yang kerap dijumpai di masyarakat saat bayi menangis adalah membentak sembari mengguncang keras tubuh bayi dengan tangan. Beberapa bahkan mengguncang dengan kaki (menyepak) karena tidak bisa mengontrol emosi.
Berlaku kasar hanya akan memperkeras tangisannya. Tidak berhenti di sana, efek samping mengayun bayi adalah timbulnya Shaken Baby Syndrome jika guncangan tersebut sampai menyebabkan luka pada otak traumatik. Anak adalah anugerah, adalah penting belajar mengontrol emosi dalam merawat buat hati untuk bisa memberikan pengasuhan terbaik.
4. Bermain dengan melempar bayi ke udara
Ini biasa dilakukan para ayah saat mengajak bayinya bercanda dengan melempar bayi ke udara. Beberapa bayi akan tertawa diperlakukan seperti ini. Alih-alih membuatnya tertawa, jika tanpa sengaja dilakukan dengan cukup keras, guncangan yang ditimbulkan justru bisa membahayakan mereka.
David Perlstein, MD, MBA, FAAP dalam www.medicinenet.com memaparkan beberapa akibat yang ditimbulkan oleh SBS:
1. Pendarahan pada otak
2. Kerusakan retina
3. Kerusakan syaraf (yang umumnya bersifat permanen)
4. Kebutaan
5. Cidera pada leher dan tulang belakang.
Akibat paling fatal dari SBS adalah kematian, umumnya di alami bayi dengan usia 3-8 bulan. Di Indonesia, data gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh SBS belumlah ada, nampaknya belum ada yang mencoba melakukan survei. Sebagai perbandingan, Shaken Baby Syndrome menjadi penyumbang 10%-12% kematian bayi di Amerika.
Kebiasaan Orang Tua yang Berpotensi Menyebabkan SBS
Di Indonesia khususnya, ada banyak kebiasaan orang tua yang berpotensi memberikan guncangan pada bayi dan bisa menjadi penyebab SBS. Silakan ditambahkan jika Anda menemukan yang lain.
1. Menaruh bayi di ayunan
Membuat ayunan bayi menjadi tradisi yang diwariskan turun terumurun di Indonesia. Pertanyaan sederhana, apa kebiasaan ibu atau pengasuh saat mendapati bayinya menangis di ayunan?
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa saat bayi menangis di ayunan, orang tua atau pengasuh justru mengayun lebih keras.
2. Mengguncang saat menggendong
Aksi mengguncang bayi dalam gendongan biasa dilakukan ibu. Ada beragam alasan seperti membuat bayi tertawa atau menghentingan tangisan. Beberapa pengasuh bayi juga terbiasa melakukannya.
Jika menggunakan jasa pengasuh, penting kiranya memberi pengertian pada mereka mengenai bahaya mengayun bayi baik dalam ayunan maupun gendongan.
3. Mengguncang bayi dengan tangan atau kaki
Tangisan bayi seringkali membuat banyak orang tua marah dan frustasi. Saat stress orang cenderung bertindak anarkis. Contoh yang kerap dijumpai di masyarakat saat bayi menangis adalah membentak sembari mengguncang keras tubuh bayi dengan tangan. Beberapa bahkan mengguncang dengan kaki (menyepak) karena tidak bisa mengontrol emosi.
Berlaku kasar hanya akan memperkeras tangisannya. Tidak berhenti di sana, efek samping mengayun bayi adalah timbulnya Shaken Baby Syndrome jika guncangan tersebut sampai menyebabkan luka pada otak traumatik. Anak adalah anugerah, adalah penting belajar mengontrol emosi dalam merawat buat hati untuk bisa memberikan pengasuhan terbaik.
4. Bermain dengan melempar bayi ke udara
Ini biasa dilakukan para ayah saat mengajak bayinya bercanda dengan melempar bayi ke udara. Beberapa bayi akan tertawa diperlakukan seperti ini. Alih-alih membuatnya tertawa, jika tanpa sengaja dilakukan dengan cukup keras, guncangan yang ditimbulkan justru bisa membahayakan mereka.
Friday, 5 June 2015
Es Antartika Meleleh, Warning Untuk Dunia
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyampaikan sebuah laporan
penelitian mengejutkan. NASA mengatakan bagian utuh terakhir di
Antartika mulai meleleh. Dunia pun dalam ancaman besar diterjang
berbagai bencana alam.
Parahnya lagi, bagian tersebut akan meleleh seutuhnya pada 2020. Hal tersebut sangatlah berbahaya. Sebab, permukaan air laut dapat akan semakin naik.
Menurut NASA, penilitian mengejutkan tersebut mereka lakukan di Dataran Es Larsen B yang letaknya di semenanjung Antartika. Dataran itu diperkirakan berumur 10.000 tahun.
"Penenilitian di glester semenanjung Antartika itu memberikan pandangan soal bagaiman bagian es utuh ini mulai terpisah," kata Kepala Penelitian dan pakar gletser dari Jet Propulsion Laboratory NASA, Eric Rignot seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/5/2015).
"Banyak bagian es yang ikut terpisah. Ini terlihat seperti bagian es bereaksi terhadap iklim hangat," sambung Rignot.
Bukan pertama kali dataran es Larsen B mengalami pengurangan es. Bagian es di wilayah itu juga berkurang pada 2002. Akibat terus dihantam pemisahan bagian es, dataran itu saat ini hanya tersisa 1.600 km persegi .
Dunia bukan tutup mata melihat fenomena alam seperti itu. Sebanyak 200 negara telah setuju menggelar pertemuan pada akhir 2015 untuk membicarakan perubahan iklim global.
Hal tersebut sangatlah penting. Sebab, jika tidak dicarikan solusinya, maka dunia akan makin sering diterjang bencana alam. Seperti banjir, kekeringan, gelombang panas, dan naiknya permukaan laut.
Parahnya lagi, bagian tersebut akan meleleh seutuhnya pada 2020. Hal tersebut sangatlah berbahaya. Sebab, permukaan air laut dapat akan semakin naik.
Menurut NASA, penilitian mengejutkan tersebut mereka lakukan di Dataran Es Larsen B yang letaknya di semenanjung Antartika. Dataran itu diperkirakan berumur 10.000 tahun.
"Penenilitian di glester semenanjung Antartika itu memberikan pandangan soal bagaiman bagian es utuh ini mulai terpisah," kata Kepala Penelitian dan pakar gletser dari Jet Propulsion Laboratory NASA, Eric Rignot seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/5/2015).
"Banyak bagian es yang ikut terpisah. Ini terlihat seperti bagian es bereaksi terhadap iklim hangat," sambung Rignot.
Bukan pertama kali dataran es Larsen B mengalami pengurangan es. Bagian es di wilayah itu juga berkurang pada 2002. Akibat terus dihantam pemisahan bagian es, dataran itu saat ini hanya tersisa 1.600 km persegi .
Dunia bukan tutup mata melihat fenomena alam seperti itu. Sebanyak 200 negara telah setuju menggelar pertemuan pada akhir 2015 untuk membicarakan perubahan iklim global.
Hal tersebut sangatlah penting. Sebab, jika tidak dicarikan solusinya, maka dunia akan makin sering diterjang bencana alam. Seperti banjir, kekeringan, gelombang panas, dan naiknya permukaan laut.
Subscribe to:
Posts (Atom)
